Background

Background

Silahkan klik beberapa gambar di bawah ini

  • image1
  • image2
  • image3
  • image4
  • image2
  • image1
  • image4
  • image3
  • image2
  • image2
  • image2
Tampilkan postingan dengan label Penduduk Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penduduk Indonesia. Tampilkan semua postingan
"Buka jendelamu"
"Bukalah hatimu"
"Lihatlah disekitarmu..."
Itulah sepenggal syair lagu dari film Rumah Tanpa Jendela yang dirilis 24 Februari 2011, disutradarai oleh Aditya Gumay, dibintangi oleh Emir Mahira dan Dwi Tasya. Film itu menggambarkan tentang seorang gadis miskin yang bermimpi punya jendela dirumahnya, mempunyai nenek yang yang sakit-sakitan, dan bekerja mengamen dan ojek payung waktu hujan.

Film itulah gambaran penduduk Indonesia yang beraneka ragam, dan gambaran penduduk miskin dan penduduk kaya Indonesia, bukan hanya itu, disitu juga menggambarkan tentang bagaimana padatnya penduduk indonesia yang bahkan rumah-rumahnya saling berdempetan, kecil, kumuh dan tanpa jendela hanya kardus dan triplek saja. Tergambarkan yang duduk ditempat itu adalah buangan warga kota yang menjadi miskin atau yang gagal dalam berurbanisasi dari daerah yang jauh. Begitu benyaknya kegiatan disatu tempat yang akhirnya menjadikannya kumuh sehingga untuk memperoleh kesehatanpun menjadi susah. Kenyataanya setelah banyak pemerinyah yang menonton film sejenis itu mereka hanya mengaku menangis namun enggan untuk membenahinya, ada memang yang main gusur namun tidak memberi ganti. Jika memang alasannya untuk hal yang jelas untuk masalah negara mestinya ada ganti yang layak, namun jika digusur, dipindahkan untuk kepentingan yang tidak jelas malah akan menjadikan kerusakan yang semakin parah, digusur untuk membangun moll, tempat perbelanjaan untuk siapa? kemudian jika sudah diusir namun saat proyek tidak pernah dilaksanakan atau berhenti ditengah jalan meninggalkan sisa yang malah akan menjadikan lahan rusak bagaimana? siapakah yang akan dilaksanakan?

Salah satu yang menjadikan itu adalah urbanisasi yang gagal, yang meninggalkan apa-apa demi sesuatu yang belum jelas akhirnya, kemudian menjadikan kepadatan penduduk yang terpusat kepada suatu daerah sehingga mengakibatkan taraf ekonomi yang tidak merata dan polusi manusia.
Setelah menjadi padat maka hal selanjutnya adalah sulitnya pendidikan yang dirasakan. Modal biaya sekolah tidak ada, jauhnya sekolah dari tempat itu atau gunjingan dari sekolah-sekolah sehingga sekolah-sekolahpun seadanya, fasilitas seadanya, seragam seadanya dan tempat yang seadanya sehingga banyak memanfaatkan tempat-tempat yang berbahaya untuk kegiatan belajar-mengajar seperti dibawah jembatan kereta atau dibawah jalan. Sebenarnya salah siapa?
Salah pemerintah yang tidak mau membantu, salah mereka yang menjadi peran utama atau salah kita yang tidak sensitif terhadap masalah kependudukan seperti itu.

Semoga saja kita akan segera mendapatkan jendela yang kita inginkan, untuk segera mendapatkan solusinya dan segera menuai jendela hasilnya.
Penduduk itu bukan hanya siapa saja yang lahir di Indonesia ataupun karena perpindahan dari negara lain. penduduk itu kita semua yang menghuni tempat raya ini baik di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, Maluku dan pulau-pulau di Indonesia yang jumlahnya seribu.

Penduduk kita itu bukan hanya sekedar banyak namun yang pasti dari sekedar banyak itu ada suatu harapan yang bisa dikembangkan. Dilihat dari banyaknya penduduk Indonesia banyak yang memandang miskin, namun malahan sekarang semakin bayak warga yang kaya namun mengaku miskin, itulah mengapa Indonesia adalah Negara dengan jumlah kemiskinan yang tinggi, kenapa? karena yang kaya mengaku miskin dia akan menjadi lebih kaya dan orang yang miskin namun tidak mempunyai kesempatan membuat surat miskin dia malah akan semakin miskin. Dilihat dari pendidikannya tentu saja yang mempunyai banyak uang bisa sekolah dengan fasilitas lengkap dan yang biasa saja mendapat fasilitas yang biasa saja padahal mempunyai daya hasil yang sama namun hanya dipisahkan oleh nominal angka yang tidak setara. Lihat saja perbedaan fasilitas Sekolah yang seharusnya menjadi dasar malah roboh gedung-gedungnya, retak atapnya, sehingga untuk mendapatkan keseimbangan ilmu menjadi susah, namun di Sekolah Tinggi yang belajar terkadang hanya tiga kali seminggu malah saling meninggikan bangunannya, berlomba-lomba mencari bantuan kepada pemerintahan kita, yang akirnya yang sekolah hanya si kaya saja.

Penduduk Indonesia itu mempunyai banyak impian, untuk dirinya sendiri dan untuk anaknya. Si kecil ingin menjadi pilot, kakaknya ingin menjadi guru, tetangganya ingin menjadi tentara, keponakannya ingin menjadi dokter dan ibu dan ayahnya mempunyai impian yang besar untuk menyekolahkan anaknya hingga sukses nantinya.Namun apalah daya semua sistem berubah, penduduk hanya diibaratkan penduduk dan pemerintah diibaratkan pemerintah, membludaknya jumlah penduduk menjadi tidak terkontrol, sistem KB diselewengkan maknanya, benyak ide yang akhirnya salah sasaran.

Aku sebagai seorang penduduk punya mimpi. Jumlah penduduk yang merata haruslah bisa terjadi, adik-adikku yang kecil bisa sekolah, kakak-kakakku yang besar bisa sukses, ayah ibuku bisa bahagia, tetanggaku bisa tidur tenang, pencopet dan perampok bisa makan tanpa harus mencuri, para atasan juga bisa ramah dan berwibawa dan semua orang bisa tersenyum sehingga Negara kita menjadi Indonesianya dunia yang dibanggakan lagi sampai akhir nanti.